Media sosial telah menjadi katalisator utama dalam membentuk selera dan tren kuliner di masyarakat urban. Dalam kategori snacking, fenomena Bite Society Kekinian menunjukkan pergeseran minat konsumen dari kudapan massal menuju produk unik, niche, dan yang paling penting, highly visual. Tren Makanan Ringan dan kudapan yang viral di platform seperti Instagram dan TikTok tidak hanya harus enak, tetapi juga harus memiliki nilai kebaruan dan estetika yang tinggi untuk menarik perhatian. Memahami Tren Makanan Ringan ini sangat penting bagi pelaku UMKM kuliner untuk dapat bersaing dan menciptakan produk yang tepat sasaran di pasar digital.
Salah satu kunci dari Tren Makanan Ringan kekinian adalah faktor novelty atau keunikan. Konsumen, terutama generasi muda, mencari pengalaman rasa yang belum pernah ada. Ini termasuk kombinasi rasa yang tidak biasa (misalnya, croissant dengan isian rendang) atau perubahan tekstur yang mengejutkan (misalnya, es krim yang disajikan dengan dry ice untuk efek asap). Aspek visual juga menjadi penentu utama. Makanan ringan harus “layak difoto” (Instagrammable), baik dari segi warna (misalnya, penggunaan matcha atau ube yang cerah), bentuk (miniature size), atau cara penyajian.
Tren Makanan Ringan ini didukung kuat oleh kecepatan penyebaran informasi di media sosial. Sebuah produk yang diulas oleh food vlogger ternama pada hari Selasa, 7 Mei 2024, di Jakarta Selatan, dapat menciptakan antrean panjang dan lonjakan permintaan hingga 300% dalam waktu kurang dari 24 jam. Efek viral ini memaksa produsen untuk bekerja cepat dalam skala besar, tetapi juga berisiko menciptakan tren yang cepat berlalu (fad).
Untuk mempertahankan popularitas dan tidak hanya menjadi hype sesaat, pelaku usaha dituntut untuk berinovasi tanpa mengorbankan kualitas. Misalnya, banyak UMKM kini beralih menggunakan bahan-bahan premium dan proses produksi yang lebih higienis. Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) secara rutin melakukan inspeksi mendadak ke sentra produksi makanan viral, seperti yang terjadi pada bulan Maret 2025, untuk memastikan produk memenuhi standar kesehatan dan tidak menggunakan bahan berbahaya. Ini menunjukkan bahwa meskipun viralitas adalah kunci awal, keberlanjutan bisnis tetap bergantung pada keamanan, konsistensi rasa, dan kepatuhan regulasi. Dengan perpaduan keunikan visual dan jaminan kualitas, sebuah kudapan dapat melampaui status trending menjadi produk kuliner yang dicari dalam jangka panjang.